ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Atas)

* originals.id – Jika Gejalanya Batuk Pilek Meski tergolong sakit ringan, kalau bayi kena ISPA, sering kali kita jadi berpikir macam-macam untuk mengobatinya. Bagaimana tidak? Hidungnya yang mungil selalu berair (pilek), bahkan mungkin tersumbat. Lalu, kalau lendirnya menghalangi jalan napas, ia pun akan sering batuk. Dari situ, muncul deh kekhawatiran jangan-jangan sumbatan di hidung ini akan membuatnya sulit menyusu. Padahal, ISPA karena virus obatnya ya ASI, karena ASI mengandung zat kekebalan tubuh yang jitu bagi bayi.

SOLUSI:

– Ringankan hidung berairnya dengan menyedot ingus keluar menggunakan aspirator karet. Gunakan perlahan.

L Untuk hidung tersumbat, teteskan cairan NaCl sedikit-sedikit ke hidung bayi (boleh ke kedua lubangnya, karena Mama Papa tidak tahu mana yang tersumbat bukan?). Lakukan sebelum bayi menangis minta disusui, sehingga prosesnya lancar.

* Jika Gejalanya Demam Bayi dinyatakan demam jika suhu tubuhnya meningkat melebihi 37,5 derajat Celsius. Demam merupakan respons tubuh yang membantu sistem kekebalan agar dapat menghalau gangguan (dalam hal ini infeksi virus atau bakteri penyebab ISPA).

SOLUSI:

– Susui bayi lebih sering untuk membantu bayi mendapatkan kekebalan tubuh, menghindari dehidrasi, dan merasa lebih nyaman. Pada saat menyusui, lakukan kontak kulit ke kulit dengan bayi agar panasnya terserap dan tidak terus meninggi.

– Bawa ia ke dokter apabila: usia < 3 bulan dengan suhu >37,9 C; usia 3-6 bulan dengan suhu >38,3 C; anak > 6 bulan dengan suhu >39,4 C; usia berapa pun dengan demam menetap >72 jam; ada tanda bahaya: tidak mau menyusu, dehidrasi, rewel, menangis kuat terusmenerus, kejang, mengantuk terus, kaku kuduk, gelisah luar biasa, muntahdiare, wajah membiru, sesak napas.

– Jika kekuatan mengisap ASI berkurang, perahlah ASI dan berikan kepada bayi dengan sendok agar asupan cairan tercukupi dan terhindar dari dehidrasi (kekurangan cairan).

Menyusui Bayi “Spesial”

BEBERAPA bayi dilahirkan tidak seberuntung bayi-bayi lainnya. Kondisi ini terjadi jika bayi lahir dengan kelainan bawaan seperti bibir/langit-langit sumbing, sindrom Down (kelainan kromosom), atau kelainan bawaan pada jantung. Menyusui bayi-bayi seperti ini memerlukan waktu dan kesabaran ekstra dari Mama, sebab mereka perlu dirangsang lebih lama untuk mau menyusu.

Waktu menyusunya pun hanya sebentar-sebentar. Oleh sebab itu, dukungan dan bantuan luar biasa juga dibutuhkan dari orang-orang terdekat Mama. SOLUSI: L Mintalah bantuan dari perawat atau nenek si bayi untuk memosisikan si kecil agar bisa menyusu dengan benar (memasukkan sebanyak mungkin bagian gelap payudara/ areola ke dalam mulutnya). L Bila bayi belum mampu menyusu langsung, berikan ASIP dengan sendok sambil terus melatihnya menyusu dengan baik.

Pembentukan Karakter di Sekolah

generasimaju.com – Ungkapan orangtua yang menyatakan bahwa anaknya malah belajar hal-hal yang buruk di sekolah menunjukkan bahwa lingkungan sekolah dan pergaulan sang anak secara sosial tidak baik. Ketika sebuah keluarga memercayakan kelanjutan proses pendidikan anak-anaknya pada lembaga pendidikan, ada dua kemungkinan ekstrem yang bisa terjadi.

Pertama, orangtua pasrah total menyerahkan anaknya pada lembaga pendidikan yang ia percaya. Kedua, sekolah merasa sebagai pemilik wewenang tunggal untuk menentukan kehidupan siswa. Ini yang membuat pihak sekolah mengabaikan peranan orangtua dalam proses pendidikan ini. Kedua hal ini sama-sama tidak menguntungkan, baik bagi orangtua, siswa, maupun sekolah itu sendiri.

Kerja sama antara keluarga, sekolah dan masyarakat kiranya sangat penting dan mendesak. Orangtua perlu menyadari peran dan tanggung jawabnya sebagai pendidik, meski anak sudah menjalani masa sekolah dan tanggung jawab pendidikan seolah-olah mereka alihkan pada para pendidik di sekolah. Peranan orangtua pun mestinya semakin intensif, bukan marginal, ketika mereka menyerahkan anak-anak mereka untuk dididik di sekolah.

Sayangnya, sering kali komunikasi inilah yang macet. Sekolah hanya melibatkan orangtua kalau anaknya bermasalah, atau perlu uang untuk membicarakan ekonomi sekolah. Dua sikap yang kurang tepat ini harus dikoreksi. Sebab orangtua tetap memerlukan komunikasi yang baik dengan sekolah dan sekolah perlu memandang orangtua sebagai rekan kerja, karena mereka dipercaya oleh orangtua sebagai tangan, hati, mata, mulut, dan perhatian orang tua selama anak di sekolah.

Tanpa ada komunikasi yang baik antara orangtua dan pendidik di sekolah, pembentukan karakter anak tidak akan mungkin berjalan dengan baik. Orangtua dan keluarga memang merupakan tempat pertama dimana nilai-nilai mulia itu bertumbuh. Sedangkan apakah nilai-nilai mulia itu tetap bertahan pada saat anak memasuki masa sekolah, akan bergantung pada bagaimana orangtua dan sekolah memahami peran dan tanggung jawabnya secara benar. Bila ada komunikasi yang baik, antara orangtua dan sekolah, saya yakin, keluhan yang bernada saling menyalahkan tidak perlu terjadi. Sebab, baik orangtua dan sekolah memiliki tanggung jawab untuk membentuk karakter mulia anakanak yang dipercayakan kepada mereka.

Dari Keluarga, Bersemai Nilai-Nilai Mulia Bagian 2

sat-jakarta.com – Dialog rasional yang terjadi dalam keluarga akan membuat pertumbuhan penalaran dan logika anak berkembang dengan baik. Contoh dialog yang tidak rasional, ketika seorang anak sedang belajar berjalan, lalu terjatuh dan menangis, untuk mendiamkan anaknya agar tidak menangis, seorang ibu mengalihkan perhatian anak dengan mengatakan, “Kataknya udah pergi,” atau “Tuh..bagus bulannya”.

Jarang orangtua yang mengatakan, “Udah, tidak apa-apa, ayo, bangun lagi, tidak usah menangis.” Percayalah, semakin besar, anak semakin butuh penjelasan rasional untuk memahami sebuah perilaku dan sikap. anak butuh penjelasan rasional mengapa ia boleh melakukan ini atau tidak boleh melakukan itu. Diperlakukan seperti ini, anak akan merasa dianggap sebagai pribadi yang bisa dipercaya dan mandiri. Ini menjadi sarana internalisasi nilai yang efektif.

• Ketika seorang anak sudah mampu menggunakan kemampuannya berpikir (ia sudah mampu berkomunikasi dan dapat bersosialisasi sesuai norma yang berlaku) di sinilah proses berpikir rasional dan momen pendidikan karakter itu terjadi. Karena pada saat inilah dialog akan efektif bila dilakukan. Proses sosialisasi nilai dan perilaku yang paling efektif adalah melalui metode pemberian keteladanan dan dialog secara serempak.

Dua model inilah yang sangat memengaruhi proses pembentukan karakter seorang anak di kemudian hari. Melalui metode keteladanan dan komunikasi, anak memahami bahwa perilaku sama yang dilakukan secara berulang-ulang akan membentuk pemahaman, sikap, dan pengertian tentang sebuah tindakan. Proses pengulangan perilaku inilah yang nantinya akan menjadi kebiasaan yang terpatri di dalam diri seoarang anak.

• Ketika seorang anak mulai berjumpa dengan lingkungan di luar keluarga, ia mulai menemukan bahwa di dalam masyarakat terdapat nilai-nilai dan norma-norma sosial yang berlaku bagi setiap anggota masyarakat. ada norma berbeda yang dijumpai seorang anak ketika ia berada di luar lingkungan keluarga. Misalnya, saat ia mulai berada di lingkungan sekolah, anak berjumpa dengan aturan di sekolah yang mungkin berbeda dengan sosialisasi dan praksis nilai di dalam keluarga.

Persoalan yang sering dihadapi orangtua dan juga anak adalah pada saat anak memasuki masa sekolah dan menemukan ada banyak norma dan peraturan yang mengharuskan anak untuk menyesuaikan diri, seperti peraturan sekolah, kebiasaankebiasaan baru, teman-teman baru dan lingkungan baru.

Dari Keluarga, Bersemai Nilai-Nilai Mulia

pascal-edu.com – Keluarga merupakan lingkungan pertama di mana seorang anak belajar tentang nilai, sikap dan perilaku yang akan memengaruhi pembentukan kepribadian dan karakternya. Seorang ibu suatu ketika bertanya pada saya,” Mengapa anak saya yang sebelumnya memiliki adat santun, setelah masuk sekolah justru semakin pintar berbicara kotor dan kasar?” Sebaliknya, seorang guru juga sharing pengalaman,“ Karakter anak-anak banyak terbentuk dalam keluarga.

anak-anak yang mengalami salah didik sejak dalam keluarga, akan sulit bagi kami membetulkannya. namun, kamilah yang selalu disalahkan bila ada ketidakberesan dalam diri siswa,” keluhnya. Dua kisah di atas, meskipun tidak menggambarkan persoalan pendidikan secara umum, sesungguhnya mewakili pertanyaan pokok kita tentang persoalan sinergi pengembangan model pendidikan karakter yang efektif.

Di manakah peranan keluarga, sekolah, dan lingkungan dalam membentuk karakter anak-anak kita sehingga menjadi pribadi yang baik, memahami nilai-nilai moral, mau dan mampu mempraktikannya dalam hidup mereka? Keluarga, sekolah, dan lingkungan memiliki peranan yang khas dalam rangka pembentukan karakter individu. Memahami porsi tanggung jawab masing-masing individu dalam keluarga, sekolah, dan lingkungan menjadi sangat penting, karena dengan kesadaran akan tanggung jawab inilah dapat dibangun sinergi yang baik dalam rangka pembentukan karakter anak.

DARI RUMAH

Proses pembentukan karakter bisa digambarkan sebagai sebuah perjalanan yang bermula dari rumah, menuju ke masyarakat luas. Dari keluargalah bersemai nilai-nilai mulia yang diperoleh, dipahami, dan diterima oleh anak. Bagaimana seorang anak menerima bentukan karakter dari lingkungan keluarga?

• Sejak anak lahir, anak sudah belajar mengenal bagaimana lingkungan sekitar mendukung pengembangkan dirinya secara utuh. Proses belajar anak pertamatama dilakukan melalui perasaan enak dan tidak enak. Kalau seorang bayi merasa nyaman dengan fsiknya, dia akan tenang, diam dan tidak rewel. Tapi kalau ia mengalami ketidaknyamanan secara fsik, baik karena kehausan, kepanasan, atau kelaparan, ia akan menangis. Lingkungan fsik yang hangat dan ramah membantu seorang anak bertumbuh dan berkembang.

• Ketika anak semakin besar (bisa berjalan, mulai belajar mengeja kata-kata, belajar mandiri), proses pembelajarannya adalah melalui komunikasi, dialog, dan contoh. Mereka akan belajar bersikap dan bertindak dari apa yang ia lihat dan ia dengar. apa yang dilakukan dan dikatakan orang dewasa akan menjadi model dan pedoman bagi cara dia bersikap dan bertingkah laku.