Cara Membuat Kompos

Cara Membuat kompos Dari Sayuran Bekas merupakan cara yang efektif dan ramah lingkungan. Selain itu, Anda juga dapat menghemat pengeluaran membeli pupuk untuk tanaman di rumah. 

Cara Membuat Kompos Sayuran Bekas

Alat:

  1. Ember
  2. Pisau
  3. Jerigen plastik dan tutupnya
  4. Mesin Pencacah Kompos
  5. Kayu untuk mengaduk
  6. Selang
  7. Botol dan tutupnya
  8. Saringan/kain tipis

Bahan:

  1. Limbah rumah tangga seperti sayuran basi, sisa, nasi, parutan kelapa, buah busuk, dan limbah sejensinya. Limbah ini berperan sebagai sumber nitrogen.
  2. Gedebog/batang pisang yang sudah berbuah
  3. Kotoran hewan ternak seperti kotoran sapi, kambing, atau ayam.
  4. Urine hewan
  5. Bekas air cucian beras
  6. Air cucian ikan
  7. Gula pasir/ gula merah/ tetesan tebu
  8. Sabut kelapa tanpa kulit
  9. Bubuk kayu gergajian
  10. Decomposer seperti SOT, EM4, dan sejenisnya.
  11. Air secukupnya

Membuat Kompos Dari Sayuran Bekas:

  1. Cuci bahan yang telah dikumpulkan menggunakan air bersih. Hal tersebut bertujuan untuk menghilangkan zat-zat berbahaya yang dapat menghambat proses fermentasi.
  2. Cincanglah bahan-bahan yang sudah dicuci. Usahakan jangan terlalu besar dalam mencincang, karena semakin kecil cincangan maka proses fermentasi dapat berjalan lebih sempurna.
  3. Larutkan bioaktiviator (EM4 dan sejenisnya) sebagai mikroba ke dalam air secukupnya. Tambahkan pemanis alami. Pemanis alami yang digunakan bisa gula merah, gula pasir, atau air tebu. Diamkan campuran tersebut selama 20 menit untuk membangkitkan mikroba.
  4. Kotoran ternak segar dimasukkan ke dalam jerigen plastik.
  5. Bahan-bahan yang sudah dicincang selanjutnya dicampurkan ke dalam jerigen plastik.
  6. Bahan-bahan padat lainnya dimasukkan dan dicampur rata.
  7. Tuangkan larutan bioaktivator yang telah dibuat sebelumnya. Jika perlu tambahkan terasi untuk mempercepat proses penguraian pupuk organik cair.
  8. Tuangkan air kencing, air cucian beras, air rendaman ikan dan bahan cair lainnya ke dalam ember. Aduk campuran tersebut hingga merata.
  9. Tambahkan air secukupnya dengan perbandiangan air adalah 35% cair dan 65% padat.
  10. Aduk campuran tersebut menggunakan tongkat kayu hingga merata.

Langkah-Langkah

  1. Tutup jerigen plastik dengan rapat dan masukan selang lewat tutup jerigen yang telah diberi lubang. Tempat selang dan tutup tong plastik direkatkan supay tidak ada celah udara.
  2. Masukkan ujung selang lain ke dalam botol yang telah diberi air. Anda perlu memastikan tidak adanya lubang sekecil apapun dalam tong dan selang yang mengarah ke botol. Reaksi akan berlangsung secara anaerob. Selang berfungsi untuk menstabilkan suhu adonan pupuk organik cair dengan membuanganya lewat ujung botol yang diberi air tanpa ada udara luar yang masuk ke dalam jerigen plastik.
  3. Diamkan selama 10 hari. Setelah 10 hari, Anda perlu melihat apakah pupuk organik cair sudah matang atau belum. Tanda matangnya pupuk organik yang Anda buat adalah apabila bau pupuk menyerupai aroma fermentasi tape. Jika ternyata belum matang, maka tutup kembali dengan rapat.
  4. Jika lebih dari satu bulan aroma pupuk belum menyerupai tape, berarti pembuatan pupuk organik cair telah gagal.
  5. Setelah pupuk sudah matang, selanjutnya pisahkan cairan dan ampasnya. Pemisahan dapat dilakukan dengan menyaring menggunakan saringan atau kain tipis.
  6. Masukkan cairan ke dalam jerigen dan tutup rapat. Ampas dapat digunakan sebagai pupuk organik padat.

Sekarang anda bisa menggunakan mesin pencacah kompos agar mempermudah pekerjaan anda dalam pembuatan pupuk kompos,dan masih banyak berbagai mesin kebutuhan anda di grosir mesin

Manfaat Kompos

  • Mengurangi polusi udara karena pembakaran limbah.
  • Mengurangi kebutuhan lahan untuk penimbunan.
  • Aspek bagi tanah atau tanaman.
  • Meningkatkan kesuburan tanah.
  • Memperbaiki struktur dan karakteristik tanah.
  • Meningkatkan kapasitas serap air tanah.
  • Meningkatkan aktivitas mikroba tanah.
  • Memperbagus kualitas rasa, nilai gizi, dan jumlah panen.
  • Menyediakan hormon dan vitamin pada tanaman.
  • Menekan pertumbuhan atau serangan penyakit tanaman.
  • Meningkatkan retensi atau ketersediaan hara pada tanah.
  • Menghemat biaya untuk transportasi dan penimbunan limbah.
  • Mengurangi volume atau ukuran limbah.
  • Mempunyai nilai jual yang lebih tinggi dari pada bahan asalnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *