Dari Keluarga, Bersemai Nilai-Nilai Mulia Bagian 2

sat-jakarta.com – Dialog rasional yang terjadi dalam keluarga akan membuat pertumbuhan penalaran dan logika anak berkembang dengan baik. Contoh dialog yang tidak rasional, ketika seorang anak sedang belajar berjalan, lalu terjatuh dan menangis, untuk mendiamkan anaknya agar tidak menangis, seorang ibu mengalihkan perhatian anak dengan mengatakan, “Kataknya udah pergi,” atau “Tuh..bagus bulannya”.

Jarang orangtua yang mengatakan, “Udah, tidak apa-apa, ayo, bangun lagi, tidak usah menangis.” Percayalah, semakin besar, anak semakin butuh penjelasan rasional untuk memahami sebuah perilaku dan sikap. anak butuh penjelasan rasional mengapa ia boleh melakukan ini atau tidak boleh melakukan itu. Diperlakukan seperti ini, anak akan merasa dianggap sebagai pribadi yang bisa dipercaya dan mandiri. Ini menjadi sarana internalisasi nilai yang efektif.

• Ketika seorang anak sudah mampu menggunakan kemampuannya berpikir (ia sudah mampu berkomunikasi dan dapat bersosialisasi sesuai norma yang berlaku) di sinilah proses berpikir rasional dan momen pendidikan karakter itu terjadi. Karena pada saat inilah dialog akan efektif bila dilakukan. Proses sosialisasi nilai dan perilaku yang paling efektif adalah melalui metode pemberian keteladanan dan dialog secara serempak.

Dua model inilah yang sangat memengaruhi proses pembentukan karakter seorang anak di kemudian hari. Melalui metode keteladanan dan komunikasi, anak memahami bahwa perilaku sama yang dilakukan secara berulang-ulang akan membentuk pemahaman, sikap, dan pengertian tentang sebuah tindakan. Proses pengulangan perilaku inilah yang nantinya akan menjadi kebiasaan yang terpatri di dalam diri seoarang anak.

• Ketika seorang anak mulai berjumpa dengan lingkungan di luar keluarga, ia mulai menemukan bahwa di dalam masyarakat terdapat nilai-nilai dan norma-norma sosial yang berlaku bagi setiap anggota masyarakat. ada norma berbeda yang dijumpai seorang anak ketika ia berada di luar lingkungan keluarga. Misalnya, saat ia mulai berada di lingkungan sekolah, anak berjumpa dengan aturan di sekolah yang mungkin berbeda dengan sosialisasi dan praksis nilai di dalam keluarga.

Persoalan yang sering dihadapi orangtua dan juga anak adalah pada saat anak memasuki masa sekolah dan menemukan ada banyak norma dan peraturan yang mengharuskan anak untuk menyesuaikan diri, seperti peraturan sekolah, kebiasaankebiasaan baru, teman-teman baru dan lingkungan baru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *