Hewan Kurban dan Rendahnya Konsumsi Daging Sapi di Indonesia

Ketika umat Muslim merayakan hari raya Idul Adha, tidak terlepas dengan yang namanya berkurban, salah satu hewan yang sering dijadikan kurban adalah sapi. Saat inilah para umat akan berlomba-lomba untuk  membeli daging sapi dan melakukan sedekah kepada sanak saudara untuk berbagi kebahagian. Namun berbeda halnya ketika perayaan Idul Adha 14411 H kemarin yang jatuh pada hari Jumat, 31 Juli 2020, konsumsi akan kurban sapi pedaging menjadi lesu. Lantas apa penyebabnya? Berikut ulasanya:

Penyebab konsumsi sapi potong di Indonesia yang rendah

1. Karena adanya pandemi covid-19

Salah satu penyebab pertama yang mengakibatkan konsumsi kurban daging sapi pada Idul Adha kemarin mengalami penurunan yang sangat dratis adalah karena Indonesia pada khususnya sedang menjalani fase sulit. Fase sulit tersebut disebabkan karena Pandemi Covid-19. Pada bulan Juli 2020 kamarin, di Indonesia sendiri sudah menjalani masa Covid-19 selama hampir 4 bulan. Dan saat tersebut, seluruh aktivitas masyarakat dibatasi termasuk bekerja.

Oleh karena pembatasan tersebut, tentunya berpengaruh besar terhadap perekonomian masyarakat di Indonesia yang semakin menurun. Turunnya perekonomin ini memberi pengaruh pada melemahnya minat masyarakat untuk melakukan kurban.

2. Pendapatan masyarakat yang menurun

Rendahnya minat masyarakat untuk mengkonsumsi sapi potong saat kurban kemarin juga disebabkan karena faktor rendahnya pendapatan masyarakat.

Mereka lebih memilih membelikan uangnya untuk hal-hal lain yang merupakan kebutuhan pokonya ketimbang membeli daging kurban.

Pendapatan ini sangat dipengaruhi oleh lancar tidaknya pekerjaan yang digeluti oleh masyarakat.

Apalagi saat kurban kemarin, hampir seluruh masyarakat mengalami masa-masa sulit dalam hal pekerjaan yang mengakibatkan pendapatan semakin menurun drastis.

3. Ketakutan masyarakat akan “sapi sampah”

Tidak bisa dipungkiri lagi, ketika menjelang hari raya untuk melakukan kurban, tentunya ada segelintir oknum nakal yang memperjual belikan “sapi sampah”.

Sapi sampah yang dimaksud di sini adalah sapi-sapi yang diberikan sampah oleh pemiliknya tanpa memperhitungkan dampak kesehatan sapi dan kualitas pada daging konsumsinya.

Menurut para ahli kesehatan menyatakan bahwa, sapi-sapi yang diberika pakan sampah sangat tidak baik untuk dikonsumsi oleh manusia.

Pasalnya dalam daging sapi tersebut akan terdapat kandungan yang berupa residu logam berat. Tentunya kandungan ini sangat tidak baik untuk dikonsumsi dan sangat berbahaya apabila berhasil masuk ke dalam tubuh seseorang.

4. Harga kurban sapi yang mahal

Saat-saat menjelang hari raya kurban, sudah pasti harga sapi potong akan semakin melonjak drastis. Bukan tanpa sebab, lonjakan harga ini juga dibarengi dengan permintaan yang tinggi.

Namun untuk Kurba kemarin pada tahun 2020, konsumsi akan daging sapi sangat rendah.

Alsan masyarkat sudah tidak lain karena harga kurban yang sangat mahal, sedangkan pendapatan masyarkat pada kurban kamarin menurun akibat adanya pembatasan bersekala besar selama beberapa bulan.

Rata-rata konsumsi sapi potong oleh masyarakat Indonesia

Konsumsi sapi potong di Indonesia masih kalah jauh dengan negara-negara tetangga. Berikut ini adalah rinciannya dari tahun 2015 hingga tahun 2019:

1. Tahun 2015

Pada tahun 2015, Indonesia sendiri hanya berada pada angka 1,8 kg per kapita untuk konsumsi sapi potong. Tentu jumlah ini masih kalah jauh dengan negara lain seperti Malaysia yang menduduki angka 6 kg per kapita setiap tahun.

2. Tahun 2016

Tahun 2016, jumlah konsumsi sapi potong oleh masyarakat Indonesia mengalami peningkatan lebih sedikit.

Yang mana peningkatannya berada pada angka 2 kg per kapita setiap tahun.

3. Tahun 2017

Tahun 2017, angka konsumsi sapi potong di Indonesia tidak mengalami kenaikan. Hanya saja masih tetap berdiri pada angka 2 kg per kapita setiap tahunnya.

Angka ini masih kalah jauh dengan negara-negara tetangga yang lainnya kecuali negara Thailand

4. Tahun 2018 dan tahun 2019

Tahun 2018 dan tahun 2019, angka konsumsi akan sapi potong masih tetap sama pada 2 kg per kapita setiap tahun.

Angka ini tetap masih kalah jauh dengan negara-negara tetangga seperti Malaysia, Filipina, dan yang lainnya kecuali negara Thailand.

Perbandingan konsumsi daging sapi di Indonesia dengan negara lain

Indonesia sendiri merupakan negara yang memiliki konsumsi sapi potong yang masih rendah dari negara lain.

Negara-negara tersebut seperti Brazil yang mana mampu mengkonsumsi sapi potong sebanyak 40 kg per kapita setiap tahunnya, kemudian negara Argentina yang mampu memberikan konsumsi mencapai 55 kg per kapita setiap tahunnya.

Jerman merupakan negara yang memiliki tingkat konsumsi sapi potong sebanyak 40 hingga 45 kg per kapita setiap tahunnya. Dan, untuk Singapura sendiri merupakan negara yang mencapai tingkat konsumsi sapi pedaging sebanyak 15 kg per kapita setiap tahunnya.

Lantas berapakah konsumsi masyarakat akan sapi potong selama ini? Untuk di Indonesia rata-rata konsumsi sapi potong hanya sebasar 1,98 kg/ kapita setiap tahun.

Sangat jelas jumlah ini jauh dari beberapa negara yang sudah disebutkan di atas. Namun jika konsumsi sapi potong Indonesia dibandingkan dengan konsumsi negara Thailand, Indonesia masih bisa bersaing.

Sebab Negara Thailand sendiri memiliki rata-rata konsumsi sapi pedaging per kapita setiap tahunnya hanya 1,31 kg.

Demikianlah penyebab rendahnya konsumsi hewan kurban khususnya daging sapi di Indonesia. Jika ingin melakukan wisata edukasi urban farming, bisa dengan mengunjungi peternakan sapi “AOFAFARM” yang terletak di bekasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *